juragankonveksi.id – Ketegangan antara Israel dan Iran yang terus memanas mengguncang pasar global, termasuk pasar saham. Namun, di tengah gejolak geopolitik ini, para investor justru melihat peluang untuk memilih saham-saham yang lebih tahan banting dan berpotensi tumbuh.

Analis pasar modal menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham dari sektor energi, pertahanan, dan logistik. Ketiganya sering mengalami lonjakan permintaan saat konflik berskala besar terjadi.

Saham energi seperti PTBA, MEDC, atau PGAS berpotensi menguat, mengingat konflik Timur Tengah sering mempengaruhi harga minyak dan gas dunia. Ketika harga energi naik, emiten di sektor ini biasanya mendapat keuntungan signifikan.

Selain itu, investor juga bisa melirik saham di sektor pertahanan atau teknologi militer. Meskipun Indonesia tidak memiliki banyak perusahaan terbuka di sektor ini, eksposur tidak langsung melalui BUMN strategis seperti PINDAD (jika IPO) atau sektor industri logistik bisa memberi keuntungan jangka panjang.

Sektor logistik dan transportasi juga menawarkan peluang, terutama jika rantai pasok global terganggu akibat ketegangan geopolitik. Emiten seperti ASSA dan SMDR berpeluang mengisi kebutuhan distribusi alternatif.

Sementara itu, investor sebaiknya menghindari saham yang sangat sensitif terhadap volatilitas, seperti sektor pariwisata atau maskapai, karena risiko pelemahan konsumsi dan gangguan perjalanan.

Dengan menganalisis kondisi pasar secara objektif dan menyesuaikan portofolio, investor bisa tetap meraih peluang meskipun di tengah ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik memang berisiko, tetapi strategi investasi yang tepat tetap bisa memberi hasil positif.