JURAGANKONVEKSI.ID – Selama London Climate Action Week (LCAW) 2025, ajang ini mengalami lonjakan partisipasi luar biasa: lebih dari 700 acara dan 45.000 peserta dari seluruh dunia hadir, angka ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu. Bahkan acara tahunan sejenis di New York mulai menghadapi kendala, termasuk pembatasan perjalanan dari AS ke negara-negara rentan iklim, yang mendorong banyak pemangku kepentingan lebih memilih London yang dinilai lebih inklusif dan kondusif.

Pusat perhatian acara ini tak lepas dari peran Sustainable Finance sebagai motor utama pembiayaan transisi hijau. Di dalamnya, pembahasan mencakup strategi investasi net‑zero, peningkatan transparansi risiko iklim, dan penciptaan inovasi instrumen keuangan yang menggiatkan kolaborasi publik-swasta. London bahkan menjadi tuan rumah edisi perdana Climate Resilience Finance Summit, yang secara khusus menargetkan pencapaian tujuan US$ 1,3 triliun untuk keuangan resiliensi sejak COP29.

Mengapa Inggris Memimpin?

  1. Komitmen Regulatif dan Institusional
    Inggris mengembangkan kerangka pendanaan hijau sejak lama: meluncurkan Green Finance Principles (termasuk Belt & Road), memperkuat standar transisi karbon lewat Bank of England, dan memimpin inisiatif standar ESG di ISO.
  2. Dana Publik dan Swasta yang Semakin Tersedia
    Pemerintah London, melalui Wali Kotanya, bahkan pernah meluncurkan Green Finance Fund senilai £500 juta untuk mendukung efisiensi energi, transportasi bersih, dan energi terbarukan. Selain itu, konsolidasi bank global di aliansi seperti Net Zero Banking Alliance menegaskan London sebagai pusat kolaborasi keuangan hijau.
  3. Inovasi Produk Keuangan Hijau
    Instrumen seperti green bond makin populer di Eropa dan London. EIB, EU Green Bond Regulation, dan CBIs telah menjadi tolok ukur global.
  4. Pertemuan Global dan Kolaborasi Nyata
    Acara seperti Net Zero Delivery Summit (23 Juni), Climate Resilience Finance Summit, hingga Climate Innovation Forum memadukan pemimpin keuangan, bisnis, dan inovator untuk menciptakan solusi nyata.

Amerika Serikat Mulai Tertinggal – Ini Sebabnya

  1. Dinamika Kebijakan Domestik yang Tidak Stabil
    Setelah dominasi IRA (Inflation Reduction Act), kebijakan hijau di AS kini diwarnai upaya pembatalan oleh pemerintah Trump saat ini—mengakibatkan pembatalan proyek, kebangkrutan perusahaan seperti Sunnova dan Wolfspeed, dan memburuknya kepercayaan investor.
  2. Peralihan Arus Modal dari AS
    Data MSCI menunjukkan porsi dana iklim global di AS turun dari 69% menjadi 61% sejak 2024, sementara Eropa naik dari 19% ke 25% .
  3. Bank-Bank AS Menarik Diri dari Aliansi Hijau
    Sejumlah bank besar di AS meninggalkan aliansi seperti Net Zero Banking Alliance karena tekanan politik, sementara sebagian besar bank Eropa tetap tinggal.
  4. Sentimen Investor Negatif terhadap ESG
    Tekanan politik menimbulkan sikap anti-ESG di AS. Survei menunjukkan investor kini lebih berhati-hati, memilih peluang aman dari perspektif regulatif dan reputasi.

Implikasi dan Peluang Global

Jepangangan

  • Eropa kini menjadi magnet utama arus modal hijau global, didukung regulasi yang lebih stabil baik di kawasan EU maupun Inggris.
  • Asia juga tumbuh signifikan, meraih alokasi dana iklim hingga 13% (naik dari 9%), dan berpotensi naik lebih tinggi lagi .
  • Amerika Serikat masih kuat, namun jangka panjangnya dipertanyakan apabila ketidakpastian kebijakan berlanjut.

Tantangan

  • Regulasi hijau global masih belum seragam: perbedaan taxonomy AS vs EU/UK bisa memperumit penilaian kesesuaian investasi .
  • Melemahnya dana bantuan iklim UK (dari 0,5 % ke 0,3 % PDB) bisa mengurangi akses warga berkembang .

Kesimpulan: Momentum London vs Tekanan AS

Meski modal publik di AS masih besar, ketergantungan investor pada kestabilan dan integritas regulasi makin terlihat.

Jika tren ini berkelanjutan, Eropa dan Asia bisa menguasai aliran modal iklim dalam dekade mendatang. Bagi AS, tantangannya jelas: stabilkan kebijakan hijau dan kembalikan insentif investor agar tak kehilangan panggung dalam era transisi iklim global.